sekolah online di masa covid 19 dialami anak-anak
|

Drama Anak Sekolah Online, Haruskah Orangtua Ikut “Ngegas”?!

Sejak pandemi Covid-19 merebak di Indonesia, tak terasa hampir setahun sistem pendidikan kita menjalankan program Pembelajaran Jarak Jauh dari rumah. Hayooo siapa Teman Cerita di sini yang suka ikutan drama pas lagi dampingi anak-anaknya sekolah online? Mau gak mau orang tua di rumah juga ikut sekolah kan yaa hahaha… Stress orang tua menghadapi drama sekolah dari rumah ternyata bukan hanya meme di media sosial semata. Rupanya beneran.

Saya pun sebagai IRT mengalaminya pada satu semester awal, apalagi anak saya baru masuk di kelas 1 SD. Peralihan dari TK ke SD yang seharusnya didampingi oleh guru dengan tatap muka di sekolah, harus ditempuh secara online. Kebayang ya mood anak usia 6 tahun yang harus berkutat dengan penjelasan materi pelajaran melalui Google Meet dan harus mengerjakan tugas sekolah yang udah banyak nulisnya. Tapi kalau lagi dampingin anak sekolah online, pada praktiknya saya sering jadi ikutan emosi sendiri. Saya ngerasa : ‘anak saya ini kok malas sekolah, cuma dengerin penjelasan guru aja kok susah anteng, cuma nulis segitu aja kok capek’, dan segudang pikiran lain. Saya akui, terkadang saya menuntut anak bisa seperti orang dewasa.

Tapi setelah beberapa bulan melewati itu, setelah curhat ke suami dan para emak yang senasib di luar sana, dan ga sengaja membaca beberapa artikel terkait, akhirnya saya sadar bahwa memang rentang fokus anak serta lingkungan belajar itu sangat memengaruhi proses belajar si anak. Tempat belajar di sekolah untuk mendukung suasana kondusif saat ini tak terpenuhi, sehingga saat belajar dari rumah, keseriusan anak jadi berkurang. Mereka juga masih bisa mengakses mainan atau televisi kapan pun mereka mau. Terlebih lagi di rumah hanya ada orangtuanya, sehingga mereka merasa lebih “bebas” tidak ada rasa sungkan seperti saat belajar dengan guru mereka di sekolah.

Menurut artikel Mommies Daily yang saya baca, dilansir dari brainbalancecenters.com, rata-rata rentang konsentrasi anak terbagi berdasarkan usianya, yaitu :

  1.  2 tahun : 4-6 menit
  2.  4 tahun : 8-12 menit
  3.  6 tahun : 12-18 menit
  4.  8 tahun : 16-24 menit
  5. 10 tahun : 20-30 menit

Atau bisa dihitung dengan cara yang lebih mudah diingat yaitu dengan cara mengalikan 3-5 menit dengan usia anak. Misal anak usia 3 tahun hanya mampu berkonsentrasi penuh selama 9-15 menit saja. Jadi sesungguhnya rata-rata anak usia pra sekolah baik TK ataupun jenjang SD kelas 1-3 pada dasarnya memang belum mampu berkonsentrasi penuh selama 30 menit. Kondisi harus #dirumahaja dalam jangka waktu lama juga pasti memicu kebosanan yang akan berpengaruh pada proses belajar online mereka.

Nah selanjutnya mungkin Teman Cerita akan bertanya, “Terus gimana dong caranya agar anak bisa belajar dari rumah dengan minim drama, supaya orang tua juga gak ikut senewen sendiri?” Menurut pengalaman saya beberapa bulan terakhir, ada beberapa cara supaya anak bisa lebih fokus dan enjoy saat belajar dari rumah.

  1.  Jauhkan mainan, buku cerita ataupun komik dari ruang belajar anak. Buat kesepakatan bersama bahwa mereka bisa mengakses benda favoritnya setelah jam pelajaran sekolah hari itu usai.
  2.  Kenali gaya belajar anak, sesuaikan metode belajar dengan gaya belajarnya. Seperti anak saya yang tidak bisa mengerjakan sesuatu langsung dalam 1 tahap, akan lebih efektif membagi tugasnya dalam beberapa tahap.
  3.  Beri kesempatan untuk istirahat dan bergerak saat mereka mulai terlihat bosan atau capek. Buat suasana belajar terasa menyenangkan.
  4. Pastikan anak memulai dan menjalani sekolah online tanpa rasa lapar atau kantuk. Sarapan walau hanya sepotong roti maupun semangkuk sereal akan membantu mereka semangat dan berkonsentrasi.

Tiap anak memang berbeda ya treatment-nya, Teman Cerita pasti lebih tahu bagaimana harus menghadapi anak masing-masing. Tapi intinya adalah pemahaman dari kita dulu sebagai orangtua, bahwa kemampuan mereka untuk fokus masih terbatas, sehingga harapannya kita tidak akan memaksa anak terlalu keras. Jika dipaksa justru akan menimbulkan trauma belajar dalam diri anak. Saat ini lebih penting menyelamatkan mental anak, alih-alih menuntut prestasi gemilang di sekolah.

Dari kesemuanya itu, yang paling penting adalah wajib perbanyak stok sabar ya, Teman Cerita. Jangan lupa “me time” juga secara rutin. Yang hobi nonton drakor, sok atuh hihihi… Kalau kita bahagia otomatis mood ke anak juga akan lebih terjaga. Kan ini semua demi keselamatan anak kita juga, #coronamasihada dan jujur saya pribadi masih belum siap kalau anak-anak sudah harus sekolah tatap muka yang rencananya dimulai lagi tahun ajaran baru Juli 2021 nanti.

Mungkin segini dulu ya sharing dari saya, semangat selalu untuk Teman Cerita yang masih harus membersamai anaknya sekolah dari rumah. Yuk sama-sama kita doakan semoga pandemi ini cepat berlalu, dan anak-anak bisa sekolah tatap muka lagi tanpa rasa khawatir, supaya sosialisasi mereka tetap terasah. Jangan lupa jaga kesehatan dan protokol kesehatan dimanapun yaa… See You!

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *