Balada Toilet Training

Potty training is a developmental process, not a race!

deedee & dolley

Awalnya saya merasa cukup terlambat mulai melakukan toilet training untuk anak pertama saya. Sebenarnya memang tidak ada waktu yang pasti kapan anak harus dilatih, karena semua tergantung kesiapan anak dan tiap anak tentu waktunya berbeda-beda. Saya pernah mendengar bahwa salah satu syarat mendaftarkan anak sekolah adalah harus sudah lulus toilet traing, dan saya lantas panik, padahal anak saya belum akan saya daftarkan sekolah. Hahaha dasar mama insecure.. Namun saya jujur belum memulainya padahal usia anak saya sudah 3 tahun 2 bulan.

Mengapa? Yah saya akui saya belum siap, iya saya yang belum siap. Kebetulan anak kedua saya lahir 2 tahun setelah anak pertama, sehingga Teman Cerita bisa membayangkan bagaimana repotnya saya sehari-hari tanpa ada drama toilet training. Tapi saya sadar harus memulainya, mumpung masih pandemi Covid-19 yang memberi keuntungan bahwa kami lebih banyak di rumah, sehingga huru-hara drama toilet training hanya akan terjadi di rumah saja. Btw, mungkin Teman Cerita ada yang masih asing dengan istilah ini. Toilet training merupakan proses anak belajar buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB) di toilet selayaknya orang dewasa, jadi no diaper lagi.

Lalu, apa yang saya lakukan pertama kali? Tentu saja saya mulai dari bagian paling menyenangkan dulu yaitu menyiapkan potty seat dan membeli beberapa celana dalam anak dengan beragam motif. Saya harus menyiapkan celana dalam dengan jumlah yang cukup, karena pasti akan banyak adegan ‘ngompol’ beberapa kali dalam satu hari. Saya mulai dengan memakaikan celana dalam pada siang hari dan diaper pada malam hari.

Lalu bagian yang paling krusial adalah ‘sounding’ ke anak saya bahwa ia sudah menjadi anak besar dan sudah saatnya ia BAK dan BAB di toilet seperti mama-papanya. Dulu sekali memang saya pernah mencoba mendudukkannya di potty seat saat ia sudah menunjukkan gejala BAB, namun karena saya tidak konsisten sehingga tidak ada pengaruh sama sekali pada anak saya.

Selanjutnya, saya menyetel alarm per 2 jam untuk membawa anak saya ke toilet dan memintanya BAK, seberapa pun banyaknya. Saya melibatkan seluruh penghuni rumah untuk membantu saya agar konsisten, jadi kami berganti-gantian membawanya ke toilet setiap kali alarm berbunyi. Anak saya pun pada akhirnya terbiasa setiap mendengar suara alarm, itulah saatnya ia ke toilet untuk BAK. Puji Tuhan, dalam waktu 3 hari, anak saya hanya ‘kecolongan’ beberapa kali saja, tidak seperti dugaan saya sebelumnya.

Lain hal dengan BAB, saat ia sudah menunjukkan gejala ‘ngeden’, ia menolak didudukkan di potty seat. Mungkin duduk di potty seat membuat dia tidak bisa berkonsentrasi mengosongkan lambungnya haha.. Namun, ketika satu kali ia berhasil BAB di toilet, selanjutnya ia tidak keberatan didudukkan di potty seat. Apa yang saya lakukan untuk membuatnya nyaman dan betah duduk di potty seat? Saya duduk di depannya dengan bangku kecil, lalu saya menemaninya ngobrol. Kami membicarakan hal-hal kesukaan anak saya seperti kendaraan atau hewan favoritnya. Saya juga sering mengajak anak saya membaca huruf-huruf yang ada di label botol sabun atau shampoo miliknya. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlewati. Perut anak nyaman dan ia semakin pintar membaca. Wow. Tak lupa setiap kali anak saya berhasil BAK dan BAB di toilet, saya memberinya pujian.

Ternyata, karena terbiasa merasakan ‘kering’ anak saya langsung menangis setiap kali merasa celananya basah, ia tidak nyaman. Hal ini membuat ia semakin pintar menahan rasa ingin BAK dan menunggu sampai dibawa ke toilet. Ini pun terbawa sampai malam hari, setiap kali bangun pagi, diapernya kering, rupanya ia menahan rasa ingin BAK-nya sampai pagi. Yang paling bikin bahagia apa? Ini hanya berlangsung dalam waktu kira-kira satu minggu lebih. Padahal saya sudah siap lahir batin akan berdarah-darah selama dua bulan untuk proses ini.

Jujur, proses toilet training ini ternyata tak seburuk dugaan saya. Entah apakah ini terkait dengan usia anak saya yang sudah cukup besar sehingga lebih mudah atau karena faktor lain. Yang jelas sekarang sudah saya anggap selesai. Malam hari pun saya sudah berani memakaikan anak saya celana dalam. Selain konsisten, kunci utama toilet training adalah anak siap dan orang tua siap.

Nah, kalau pengalaman Teman Cerita bagaimana?

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *