From Working Mom to Stay at Home Mom
Hai Teman Cerita,
Sebelumnya kita sepakat ya kalau setiap ibu, baik itu ibu bekerja maupun ibu rumah tangga adalah ibu yang terbaik bagi anak-anaknya. Apa pun pilihan ibu, baik bekerja maupun menjadi ibu rumah tangga, pasti sudah diputuskan dengan berbagai pertimbangan yang tentunya untuk kebaikan semua pihak. Di cerita kali ini, saya mau sharing dan berbagi tips mengenai pengalaman saya, terkait keputusan saya untuk berhenti menjadi ibu bekerja dan fokus sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga.
Setelah menikah, saya dan suami sama-sama bekerja namun kami tinggal di kota yang berbeda, saya di DKI Jakarta dan suami di NTT. Puji Tuhan, setelah menikah kami langsung dianugerahi seorang putri yang cantik, yang kami beri nama Michelle. Dapat Teman Cerita bayangkan, proses kehamilan-melahirkan-merawat anak dalam kondisi normal saja tidak mudah, apalagi saya menjalaninya dalam kondisi LDM (long distance marriage).
Keinginan saya untuk berhenti bekerja menjadi sangat besar terutama saat cuti melahirkan selesai. Saya sudah harus mulai bekerja dan anak saat itu dititipkan di daycare. Duh, rasanya campur aduk. Bingung dan sedih karena harus bekerja dan meninggalkan Michelle yang masih bayi di tangan orang lain.
Seiring berjalannya waktu, ternyata tantangannya juga semakin banyak. Michelle sering sakit-sakitan karena tertular dari anak-anak lain yang sakit di daycare, sehingga saya akhirnya memutuskan berhenti menitipkan Michelle di daycare dan mencari pengasuh. Ditambah lagi proses MPASI (Makanan Pendamping ASI) Michelle yang juga sulit untuk ditangani pengasuh, sehingga berujung pada kondisi kekurangan nutrisi.
Dengan alasan-alasan itulah saya bulatkan tekad tidak melanjutkan kontrak kerja untuk kemudian ikut suami ke NTT dan menjadi ibu rumah tangga. Sempat galau? Sempat banget, terutama saat memikirkan aktivitas saya kedepannya akan berbeda jauh, tidak lagi punya sumber keuangan mandiri, dan kehidupan sosial akan berkurang drastis.
Saya pun melakukan research kecil-kecilan, mulai dari bertanya pengalaman teman-teman yang senasib, hingga browsing hal-hal yang harus dipersiapkan untuk masa transisi ini. Saya coba share ya apa yang saya siapkan dan lakukan untuk membuat proses transisi dari ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga terasa lebih mudah:
- Tentukan Target
Dengan adanya target, kita dapat mempersiapkan diri lebih baik untuk menghadapi perubahan situasi saat menjadi ibu rumah tangga. Target utama saya adalah memperbaiki nutrisi anak dengan pemberian MPASI yang lebih baik, maka saya mencari info mengenai menu yang menarik dan bergizi untuk Michelle. Target lainnya adalah memaksimalkan proses tumbuh kembang Michelle secara motorik dan kognitif, maka saya mencari info dan mempersiapkan beragam permainan edukatif untuk Michelle.
- Tentukan Jadwal
Saat bekerja, kita terbiasa memiliki jadwal yang teratur, mulai dari bangun, berangkat kantor, makan siang, hingga pulang kantor. Saat menjadi ibu rumah tangga, adanya jadwal membantu saya melewati hari-hari tanpa kebingungan harus melakukan apa. Ditambah dengan adanya target yang saya sebutkan sebelumnya, saya dapat menyusun jadwal menu MPASI dan waktu bermain Michelle sehingga target saya lebih mungkin tercapai.
- Jadwalkan Me Time
Situasi di kantor dan rumah bisa dipastikan berbeda jauh, terutama saat ada anak usia toddler yang berlarian ke sana ke mari, apalagi ditambah bila anak sedang mengalami tantrum. Duh! Oleh karena itu seorang ibu HARUS menyisipkan jadwal me time untuk diri sendiri. Coba berkomunikasi dengan ayah, minta luangkan waktu untuk bergantian menjaga anak. Saya biasanya meminta suami untuk menjaga atau bermain bersama anak saat saya butuh refreshing, paling sering ketika pagi saat saya olahraga atau malam saat saya nonton drama korea. Oppa! 😊 Kewarasan ibu menentukan kewarasan kondisi rumah! Setuju kan, Teman Cerita?
- Komunikasi dengan Teman Lama
Menjadi ibu rumah tangga juga bisa membuat ibu menjadi kesepian, walaupun berada di tengah kesibukan yang sama namun tidak ada lagi teman ngobrol selayaknya saat masih bekerja di kantor. Ibu baiknya tetap berkomunikasi dengan teman-teman lama ibu, baik dari teman kantor maupun teman jaman sekolah dahulu. Tak apa membicarakan hal-hal receh, yang penting ada teman berbincang. Ibu juga bisa mencari grup yang senasib sepenanggungan dengan ibu, misal ibu bergabung di grup Dharma Wanita atau grup ibu-ibu lainnya.

Selain tips tersebut diatas, hal utama yang ibu harus persiapkan adalah mental ibu. Ini terkesan remeh, padahal super duper penting. Ibu harus menyadari bahwa situasi akan berbeda jauh, dan ibu harus bisa menerima bahwa akan ada hal-hal yang tidak mudah untuk dihadapi. Siapkan hati untuk menjadi lebih sabar saat situasi menjadi tidak mudah dan berlapang dada bahwa akan ada hal-hal yang tidak akan ibu peroleh seperti saat ibu bekerja.
Namun yakinlah, bahwa setiap pengorbanan ibu akan berbuah manis pada akhirnya. Hal-hal yang membuat saya tidak pernah menyesali keputusan saya adalah saat melihat tumbuh kembang Michelle menjadi jauh lebih baik. Saya pun merasakan cinta dan kasih sayang yang melimpah dari anak juga suami, juga melihat kedekatan ayah dan anak yang akhirnya terjalin setelah selama ini terhalang oleh jarak.
Untuk Teman Cerita yang juga mengalami hal yang sama dengan saya, yang sedang berjuang untuk anak dan keluarga, semoga tulisan saya ini dapat membantu. Tetap semangat!
“There is no way to be a perfect mother, but a million way to be a good one”
Jill Churchill
