Berburu Telur Paskah Saat Pandemi
Selamat Paskah, Teman Cerita.
Wah tidak terasa sudah kembali Paskah. Setahun berlalu sejak pandemi Covid-19 mulai melanda Indonesia. Satu tahun sudah juga saya tidak beribadah secara langsung di Gereja, melainkan hanya mengikuti misa secara online ataupun beribadah bersama keluarga di rumah. Jiwa ini sepertinya sudah rindu sekali merasakan atmosfer di dalam Gereja. Sebagian Gereja memang sudah melakukan ibadah rutin dengan menerapkan protokol kesehatan ketat, namun sebagai ibu dengan dua anak kecil, saya memilih tetap beribadah dari rumah saja sementara ini.
Dampak lain yang sebenarnya terasa dalam pendidikan iman keluarga adalah anak-anak yang semakin tidak familiar dengan berbagai kegiatan keagamaan. Anak pandemi, begitulah saya dan suami menyebutnya. Anak kedua saya yang lahir akhir tahun 2019 tak merasakan dibawa saat ibadah ke Gereja setiap hari Minggu, tak merasakan ikut orang tuanya latihan paduan suara ataupun ibadah lingkungan di rumah-rumah umat seiman. Padahal saya dan suami terhitung cukup aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan. Rumah kami pun tak jarang dijadikan sebagai tempat berkumpul anak-anak muda Gereja.
Pada akhirnya, sebagai orangtua kami harus kreatif, menghadirkan apa yang hilang. Jika dalam Paskah kali ini anak-anak tidak ikut merasakan serunya berburu telur Paskah di Gereja, maka kami hadirkan saja di rumah. Memang tak seheboh biasanya, telur yang kami sediakan pun hanya 15 buah, tapi setidaknya mereka mulai mengenal tradisi seru berburu telur Paskah.
Sebenarnya banyak sekali versi sejarah yang menceritakan mengapa hari raya Paskah diidentikkan dengan kelinci dan telur. Namun pada intinya, seperti saya kutip dari Kompas.com bahwa telur melambangkan sebuah kehidupan baru. Sedangkan hewan kelinci terkenal dengan kesuburannya karena sering memiliki banyak anak. Hal ini sejalan dengan inti perayaan Paskah bagi umat Kristiani yang memperingati kehidupan baru melalui kebangkitan Yesus Kristus dari kematian.
Lalu, bagaimana kegiatan berburu telur Paskah walau tetap di rumah saja?
Orang tua tetap dapat menyiapkan dua kegiatan yaitu berburu telur dan dilanjutkan dengan menghias telur. Kebetulan di samping rumah saya ada lapangan rumput cukup luas, sehingga sangat bagus jika dimanfaatkan sebagai lokasi perburuan.







Nah bagaimana, Teman Cerita? Tetap seru kan walau di rumah saja? Lewat kegiatan ini anak dapat beraktivitas fisik di luar rumah, mengasah kreativitas dalam menghias telur, serta mengenal tradisi unik berburu telur Paskah.
Kalau Paskah versi Teman Cerita bagaimana?
Share ya.
