Perjalanan Saya Menjadi Bucin Kdrama
Hai, Teman Cerita! Anyong haseyoo.
Nah, kalo pembukaannya udah pake Bahasa Korea gini, bisa ditebak kan saya mau membahas apa. Bukan, bukan bahas soal Kaesang yang ghosting mantan pacarnya ya, karena emang ngga nyambung juga dan ngga ada hubungannya sama sekali dengan Korea (dibahas!). Jadi Teman Cerita, saya mau share sedikit nih soal salah satu hobby saya yang kurang lebih setahun terakhir ini intensitasnya meningkat tajam, yaitu nonton drakor alias Drama Korea. Gimana ngga meningkat coba kalau makin ke sini oppa-oppanya cerita drakornya makin bikin gemes. Ya ngga sih?
Ngomongin soal kesukaan saya pada drakor kayanya ngga bisa lepas dari akar yang tertanam dulu pas jaman masih SMP. Bibit demen sama koko-koko bermata sipit dan berkulit putih dengan potongan rambut polem (poni lempar) udah dimulai sejak jaman Meteor Garden (2001), sebuah drama Taiwan yang waktu itu hits banget bahkan di kalangan bocah bau kencur seperti saya. Bayangin dong masih SMP udah tergila-gila sama sosok Dao Ming Si (Jerry Yan), bahkan rela ngga jajan di sekolah demi menyisihkan uang untuk beli majalah Asian Glitz dan sejenisnya di abang-abang depan sekolah. Dan kalau lagi beruntung bisa dapat bonus poster salah satu personel F4 di dalamnya. Dapat bonus begitu aja udah bahagia banget rasanya.
Sebenarnya kalau diingat-ingat lagi, kok masih SMP udah sebegitunya ya? Sebegitu tergila-gila sama kaum adam yang di luar jangkauan, ngga mencerminkan umur emang hahaha.. Tapi saat itu ya terasa wajar aja sih. Anak TK jaman sekarang aja bahkan udah ngefans dan bisa nyanyiin lagunya BTS dan Blackpink. Padahal jaman saya mentok cuma denger lagu-lagunya Eno Lerian, Chikita Meidy,Trio Kwek-Kwek, dkk. Dan lagu-lagunya juga masih seputar “Kamu makannya apa? Tempe! Saya juru masaknya. Oke!”. Sesimple itu.
Tahun demi tahun berganti, akhirnya saya pun mengenal Kdrama (drakor) dan semakin teracuni ketika menginjak bangku kuliah sekitar tahun 2005/2006. Saya memiliki sahabat yang menjadi kiblat per-drakoran saya, namanya Jessy (Monica Jesselyn). Dia sudah jadi pencinta drakor garis keras pada saat itu. Lucunya, menurut cerita sahabat saya yang lainnya, Pupi (Feby Grace Adriany), Jessy itu bisa numpang nonton drakor di kamar kost Pupi, minjem laptop, ga bisa diusir, dan terlarut hingga nangis dan ketawa sendiri di pojokan kamar. Sungguh naas nasib yang punya kamar. Jessy inilah inspirasi hidup saya. Haha.

Berat memang menjadi fans drakor tunggal, karena saat itu kami para sahabat-sahabatnya belum setertarik itu terhadap drakor. Selera kami saat itu masih seputar cerita-cerita receh nan menghibur ala FTV. Ya betul, kami tergila-gila sama mas-mas FTV yang sering banget dibintangin sama Ben Joshua. Dengan alur cerita yang sebetulnya udah ketebak dari awal : bos kaya naksir pedagang jamu, anak pengusaha jatuh cinta dengan gadis peternak kambing dll. Alur kisah dimulai dari adegan berantem dan ujungnya jadi cinta-cintaan antara pemeran utama cewek dan pemeran utama cowoknya. Teman Cerita yang dulu juga ngalamin jaman FTV booming di SCTV pasti tau deh, sebagian besar jalan cerita FTV ya seperti itu. Tapi tetep aja doyan (antara doyan sama ga ada pilihan lain, beda tipis).
Anyway, drama Korea saat itu yang paling berkesan bagi saya adalah Princess Hours (2006) yang dibintangi Yoon Eun-hye, Ju Ji-hoon, Kim Jung-hoon, dan Song Ji-hyo. Drama ini tergolong unik karena ceritanya perpaduan antara Korea modern dan kehidupan monarki konstitusional di sana. Drama ini memang termasuk dalam drama terpopuler pada tahun tersebut dan punya kontribusi besar pada terjadinya Gelombang Korea (Hallyu) di Asia. Saya ngga ingat dengan jelas pertama saya nonton Princess Hours di mana, tapi yang saya inget pasti adalah lagi-lagi ada hubungannya dengan Jessy. Pada waktu itu Jessy meminjamkan saya dvd (bajakan, maaf!) Princess Hours. Tolong jangan ditiru ya ini contoh yang …

Tapi mohon dimaklumi ya, jaman itu memang belum tersedia platform nonton drakor online, tidak seperti sekarang yang sudah banyak pilihan. Hati ini tentu senang bukan kepalang karena akhirnya bisa nonton Oppa Ju Ji-hoon sepuasnya (gomawo, Jessy). Drama itu merupakan debutnya Ju Ji-hoon kalau ngga salah, jadi bisa dipahami kalo aktingnya masih terkesan kaku. Bahkan dari interview yang pernah saya baca, Ju Ji-hoon mengaku bahwa dia mengalami kesulitan berakting pada waktu itu dan tidak percaya diri untuk menonton dramanya sendiri sampai beberapa tahun kemudian.
Meskipun kaku tapi tante tetap suka.

Gimana ngga suka kalo bentukannya kaya begini.

Dan gimana ngga baper kalo adegan lucu nan romantis kaya gini bertebaran di mana-mana. Ujungnya jangan salahkan saya kalo saya pun berakhir seperti Jessy tadi : senyum-senyum, ketawa-ketawa sampe nangis sendiri. Jadi paham kan bahwa akting kakunya mas Ji-hoon itu sama sekali nggaa masalah buat saya, karena yang lebih penting adalah pesona dari karakternya.
Setelah kesuksesan Princess Hours, tahun 2009 keluarlah versi Koreanya Meteor Garden, atau lebih tepat kita sebut versi Koreanya Hana Yori Dango, Boys Over Flowers, yang diberi judul sama dan dibintangi Lee Min-ho, Kim Hyun-joong, Koo Hye-sun, Kim Bum, dan Kim Joon. Dengan munculnya drama ini tentunya saya yang notabene fans cukup fanatik F4 Taiwan menyambut riang gembira berita bahagia tersebut. Boys Over Flowers ini bisa dibilang versi upgrade dari Meteor Garden, baik dari segi cerita dan tentu saja pemeran-pemeran yang gantengnya ngga nyantai. Dari sinilah kecintaan saya akan Lee Min-ho berawal. Waktu itu saya mikirnya : kok ada sih manusia seganteng ini. Astaga, nyebut mbak nyebut..

Ditambah lagi karakter Gu Jun-pyo itu perpaduan antara galak, cool, tapi ada sisi sweet yang bikin cewek-cewek pasti meleleh dan histeris minta dinikahi. Duh!

Saya akui industri Kdrama bener-bener luar biasa, meskipun dulu kebanyakan ide-ide cerita masih seputar percintaan (mostly, cinta segitiga) yang bikin fans terpecah antara tim First Lead dan tim Second Lead, dan ga pernah gagal bikin penontonnya susah move on. Hal ini yang sempat membuat saya vakum sesaat dari kegiatan nonton drakor, saya lemah kalo abis nonton drakor. Begitu semua episode selesai ditonton, langsung terasa hampa, ga ngerti mau ngapain dan perasaan saya masih terombang-ambing sampai sekian lama. Kedengarannya lebay ya? Well, tapi itu kenyataannya guys. Makanya ada momen dimana saya menahan diri untuk ngga nonton drakor dalam jangka waktu yang lumayan lama saat itu. Saat lihat teman kantor ada yang nontonin drakor, I was like : “Tahan-tahan, jangan tergoda, jangan tergoda.” Tapi makin ke sini kok makin banyak drakor ciamik yang diproduksi sehingga jiwa drakor-isme saya meronta-ronta minta diberi asupan gizi.
Dan pertahanan saya pun runtuh.

Perjalanan Kdramaku akhirnya dimulai kembali, dengan deretan drakor yang greget di tahun 2020 antara lain Itaewon Class, The World of The Married, It’s Okay Not to be Okay, Start Up dan beberapa drakor lain yang jadi trending topic setiap membuka media sosial. Gimana saya ngga kesel yah tiap buka Instagram isinya spoiler semua dan membuat saya mikir …

Daripada terpapar spoiler terus-terusan akhirnya saya memutuskan untuk terjun dan tenggelam sekalian. Saya pun memulai petualangan per-drakoran saya lagi. Yay!
Apakah saya nyesel? Oh tentu tidak, saya akhirnya menemukan formula yang efektif agar rasa hampa setelah menyelesaikan satu judul drakor itu bisa diminimalisir, yaitu dengan ….
Buru-buru nonton drakor yang lain.
Berasa kaya lingkaran setan ya haha.. Tapi gak apa-apa, selama persediaan drakor masih banyak di Netflix, Viu atau platform lain, kita bisa tenang. Yang susah justru menentukan drakor mana lagi yang mau ditonton. Karena drakor sekarang kan udah macem-macem banget ya tema ceritanya, bukan hanya tentang percintaan aja, tapi dari masalah perjuangan hidup, masalah politik, psikopat, kesehatan sampai action pun ada. Tinggal mood kita aja yang menentukan mau nonton drakor dengan genre seperti apa.
Saya pribadi suka coba-coba dulu. Misalnya coba nonton drakor A, ketika episode awal terasa ga greget, biasanya langsung saya skip dan cari drakor yang lain. Saya sering juga cari referensi lewat media sosial, drakor mana yang sedang banyak dibicarakan, itulah yang coba saya tonton. Jadi ngga selamanya buka Instagram isinya kesel mulu karena banyak spoiler, tapi juga ada gunanya buat cari info seperti yang saya lakukan tadi.
Salut sih sama Korea yang bisa bikin industri Kdramanya maju banget, dan saya acungi jempol juga untuk ide-ide ceritanya yang kreatif dan sering ngga terduga. Kepopuleran drakor-drakor ini tentu saja ngga lepas dari kemampuan akting para aktornya yang juga luar biasa. Itu kenapa tiap kali nonton drakor yang baru, pasti deh starstruck sama First Lead atau Second Lead-nya. Meskipun awalnya ngerasa, “Ahh, ngga ganteng” tapi ending-nya jadi bucin juga.

Saya kadang masih bertanya-tanya kok bisa ya mereka akting natural dan ngga cringey seperti yang sering kita temukan di sinetron-sinetron dalam negeri. Dan masih terheran-heran juga tentang gimana cara mereka menciptakan karakter dengan pesona yang susah ditampik para penontonnya terutama kaum wanita. Akhirnya pesona ini jadi kaya virus buat wanita lemah macam saya yang gampang banget meleleh liat para oppa yang bersliweran di drakor.

Well, Teman Cerita, itulah sekelumit cerita saya tentang perjalanan gimana dan kenapa saya suka drama Korea. Harapan saya sih Indonesia juga bisa menyusul juga dengan menciptakan banyak drama yang berkualitas dan menghibur, jadi bisa dikurangin tuh tontonan cringeworthy dan tayangan ngga mendidik yang bersliweran di TV swasta nasional kita (if you know what I mean). Kalau Korea bisa kenapa kita ngga? Betul?
Anyhoo, buat Temen Cerita yang mungkin ada rekomendasi drakor apa yang bagus buat ditonton, bisa share ke saya, agar perbendaharaan drakor saya makin luas, dan bisa jadi bahan saya untuk bikin review selanjutnya. Terima kasih sudah membaca dan see you guys di postingan saya selanjutnya ya.