| | |

Drama ART Tak Lekang oleh Waktu

Siapa Teman Cerita yang sepakat dengan judul di atas? Ya rasanya permasalahan ART alias Asisten Rumah Tangga menjadi drama yang tak habis-habisnya bagi banyak keluarga di tanah air tercinta ini. Tak sedikit saya mendengar teman atau saudara saya yang curhat perihal sulitnya menemukan ART saat ini. Lain waktu, jika sudah memiliki ART maka curhatan berubah menjadi buruknya kinerja atau buruknya sikap sang ART. Duh. Ada yang senasib?

Kalau boleh saya rumuskan, ada beberapa topik utama curhatan para ibu terkait ART :

  1. Sulit menemukan orang yang mau bekerja menjadi ART. Di keluarga besar saya, cukup lumrah kami mencari ART dari kampung yang mungkin masih ada hubungan kekerabatan dengan kami walaupun tidak terlalu dekat. Mengapa? Mungkin referensi dari keluarga lebih bisa dipercaya plus gajinya lebih bisa dinegosiasikan. Tapi sekarang, hal itu pun sulit. Usut punya usut rupanya mereka lebih memilih bekerja sebagai TKI di luar negeri atau bekerja di toko. Lebih bergengsi mungkin. Padahal kalau dihitung biaya yang mereka keluarkan jauh lebih besar dibandingkan tinggal di rumah kita sebagai ART full-time.
  2. Besarnya biaya mengambil ART dari yayasan. Sering saya mendengar cerita dari sahabat-sahabat saya bahwa ART yang didapatkan dari yayasan berulah, baru bekerja beberapa bulan sudah minta berhenti, padahal biaya administrasi untuk membawa mereka dari yayasan cukup besar. Berdasar data yang diperoleh dari situs Tempo.co, untuk mendapatkan ART dengan jaminan bertahan dalam jangka waktu 3 hingga 12 bulan di Jakarta harus mengocek biaya Rp 4 juta hingga Rp 9 juta. 
  3. Perilaku si ART tidak baik. Nah ini satu masalah tersendiri. Bagi saya pribadi, sikap dan karakter baik dari ART jauh lebih menjadi pertimbangan daripada kemampuannya bekerja. Kemampuan bekerja masih bisa dipoles selama sang ART mau belajar, namun jika sikap malas, tidak jujur, tidak ramah dan pembangkang sudah jadi karakter, wah pasti bakalan sulit.

Saya ingin berbagi salah satu pengalaman yang baru saya alami bulan lalu. Saya mempunyai ART yang masih kerabat jauh dari kampung. Anak gadis usia 17 tahun. Awalnya saya diinfokan bahwa dia cukup baik, dan pintar merawat anak-anak. Wah, saya senang mendengar referensinya karena jujur walau saya ibu rumah tangga fulltime, saya kewalahan mengurus dua anak balita yang super duper aktif. Singkat cerita, setelah mulai bekerja, dalam hitungan 2 minggu saja saya sudah marah besar kepadanya. Mengapa? Karena dia tukang tidur alias pelor (nempel molor). Dimana-mana bisa tertidur, bahkan subuh saat mulai mempersiapkan masakan, dia bisa tidur di lantai dapur. Puncaknya saat suami saya harus memberikan training secara online dari rumah, otomatis saya dan anak-anak mengurung diri di kamar agar tidak mengganggu. Dia pun ikut masuk kamarnya dan tidur siang hingga 6 jam. Saya yang tak mau ribut, membiarkannya dan baru meluapkan amarah saya saat sore ketika suasana sudah tenang.

Kisah berlanjut, satu bulan bekerja dia kami belikan handphone dengan memotong gajinya. Dia perlu memiliki handphone agar saya juga dapat menghubunginya saat saya sedang di luar rumah. Masalah berganti, tak lagi menjadi tukang tidur melainkan tukang main handphone. Hebatnya, saat dia menjaga anak saya yang sedang bermain dengan mertua saya, dia malah berjoget-joget Tiktok di depan mertua saya, bukannya mengawasi anak saya bermain. Karena kesal, saya pun menjatah penggunaan handphone-nya, dua jam saat istirahat siang lalu malam hari saat semua pekerjaan sudah selesai. Namun rupanya perilakunya terus membuat saya naik darah. Dia bangun pagi saat saya sudah selesai memasak di dapur, setiap pekerjaan harus saya perintahkan baru dikerjakan, berbohong kepada saya, dan sedikit kasar pada anak-anak.

Sekali waktu saya naik ke lantai atas rumah, maklum saya jarang naik ke atas karena ada anak kecil di rumah. Terkejutlah saya melihat kondisi lantai atas tempat kamarnya berada seperti kapal pecah. Sampah dimana-mana, gelas kotor sisa minuman bertumpuk-tumpuk, kamar mandi tidak pernah disikat, dll. Tak pikir panjang lagi, saya berikan gajinya penuh dua bulan walau dia baru bekerja 1,5 bulan, dipotong dengan pembelian handphone, lalu saya minta dia mengemasi barang-barangnya. Lebih baik saya yang letih membereskan rumah daripada letih melihat kelakuannya yang makin seenak jidat di rumah saya.

Satu kekurangan saat kita mengambil ART yang masih merupakan kerabat adalah ada batas yang kabur saat memposisikan diri kita sebagai majikan dan dia sebagai pekerja. Saya dan suami tidak hitung-hitungan jika ingin menolong, misalnya menyekolahkan ART atau mendaftarkannya ke kursus-kursus jika memang dia mau menambah ilmu. Apapun yang ada di rumah selalu dinikmati bersama, tidak pernah kami beda-bedakan, seperti misalnya makanan bahkan Wi-fi rumah. Namun jika hal tersebut berdampak pada ART yang menjadi seenaknya, tentu tak elok juga. Saat akan menegur perilakunya pun, saya harus benar-benar menyaring kata-kata yang akan saya gunakan, karena ada relasi kekerabatan yang saya jaga. Saya pun sempat khawatir, apakah nanti cerita yang sampai ke kampung sama dengan kejadian sebenarnya atau tidak. Duh, repot.

Tak heran, drama ART memang menjadi masalah yang tak habis-habis. Beberapa teman memilih bertahan dengan perilaku ART-nya karena tak punya pilihan lain, mereka sangat butuh tenaganya, sehingga mengesampingkan perilakunya. Ditambah lagi, dalam situasi pandemi ini tidak memungkinkan juga mempekerjakan ART yang pulang-pergi setiap hari mengingat rawannya kondisi. Saya teringat cerita beberapa sahabat tentang perilaku ART-nya yang bikin geleng-geleng kepala, mulai dari suka memakai baju majikannya lalu mempostingnya di media sosial, kemudian ada lagi yang suka mengambil bahan-bahan yang ada di dapur rumah seperti bawang, cabai, dll. Walah, tekor bund..

Saya coba berikan beberapa tips yang saya baca dari rumah.com tentang cara menemukan ART yang mendekati kriteria kita, walau saya sendiri jujur belum berhasil menemukannya hingga sekarang :

  1. Menentukan anggaran
  2. Mencari pendapat dari berbagai sumber seperti keluarga atau teman
  3. Menjelaskan kriteria yang dibutuhkan
  4. Jika ingin mencari lewat penyalur, periksa latar belakang agen penyalur tersebut
  5. Melakukan wawancara dan mengamati secara serius jawabannya serta sikapnya saat wawancara berlangsung
  6. Meminta calon ART mencontohkan pekerjaannya
  7. Membuat kontrak kerja tertulis

Sekarang pun ada beberapa situs atau aplikasi yang dapat membantu keluarga untuk menemukan ART atau pengasuh anak, saya kutip dari laman suara.com :

  1. GoMaid. Aplikasi GoMaid berfokus pada penyedia layanan jasa ART sesuai dengan kebutuhan. Kabar baiknya lagi layanan ini sudah tersedia di banyak kota besar di Indonesia. GoMaid menyediakan jasa asisten rumah tangga mulai dari harian hingga bulanan.
  2. Okhome. Okhome adalah salah satu layanan penyedia jasa. Namun untuk saat ini aplikasi ini hanya dapat digunakan bagi penduduk Jakarta saja. Harga yang diberikan untuk tiap jasa yang digunakan sesuai dengan luas dan tipe bangunan yang akan dibersihkan.
  3. Mbakmu. Mbakmu merupakan aplikasi layanan jasa asisten rumah tangga asal Surabaya. Layanan yang ditawarkan antara lain : membersihkan debu ruangan perapian; membersihkan kamar mandi, jendela, sofa, gorden dan karpet; mencuci baju.
  4. KliknClean. Layanan ini bisa digunakan oleh pengguna Android dan iPhone. Tak hanya untuk membersihkan rumah saja, tapi bisa untuk kantor, kos-kosan, apartemen dan duco. Makin lengkap lagi jasa KliknClean bisa juga digunakan untuk membersihkan tungau di rumah.
  5. Tukang Bersih. Tukang Bersih menyediakan layanan membersihkan rumah yang sudah tersebar di Jabodetabek, Bali, Surabaya, Malang, Semarang, Solo dan Yogyakarta. Jasa yang ditawarkan melalui aplikasi ini yaitu : daily cleaning (layanan membersihkan rumah sehari-hari) dan hydro cleaning (layanan ini khusus untuk membersihkan barang seperti sofa, karpet dan lain sebagainya).
  6. Beres. Aplikasi ini bisa dibilang penyedia jasa yang lumayan lengkap. Kenapa begitu? Sebab aplikasi Beres tidak hanya menyediakan jasa pembersih rumah atau asisten rumah tangga, namun juga mencakup jasa service AC, katering, fotografer dan videografer, pindahan dan relokasi kantor, serta pembersihan kantor.
  7. Home Solutions. Aplikasi ini dapat langsung menghubungkan kita dengan calon asisten di rumah atau jasa lain yang dibutuhkan. Sebab tak hanya asisten di rumah saja, House Solutions juga menyediakan jasa pengasuh anak, office boy, bahkan karyawan penjaga toko.

Nah gimana Teman Cerita? Punya pengalaman juga seputar drama ART? Share yuk.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *