Drama,  REVIEW

Kdrama Review : Itaewon Class (Not Your Ordinary Kdrama)

Sumber: hancinema.net

Halo, Teman Cerita! Siapa di sini yang hobby nonton Kdrama alias Drama Korea (drakor)? Bagi yang sudah baca postingan saya sebelum ini pasti tahu kalau saya juga termasuk penggemar berat drakor sejak dulu hingga sekarang. Nah pada postingan kali ini, saya akan mencoba melakukan review salah satu drakor yang cukup hits di tahun 2020 kemarin, ada yang bisa tebak judulnya apa? Yap, Itaewon Class.

Saya mulai yaa..

Itaewon Class di Korea ditayangkan oleh stasiun TV JTBC pada bulan Januari hingga Maret 2020 dengan total 16 episode. Kita di Indonesia bisa menikmati drakor ini lewat layanan Netflix ataupun platform nonton drakor lain yang tersedia. Itaewon Class merupakan serial TV pertama yang diangkat dari Webtoon dengan judul yang sama dan disutradarai oleh Kim Sung-yoon yang juga sutradara dari drakor favorit saya yang lain berjudul Big (2012) dan dibintangi oppa tercinta saya, Gong Yoo. Itaewon Class juga berhasil menyabet gelar Best Drama Series di 25th Asian Television Awards lho, dimana ajang penghargaan ini cukup bergengsi karena harus berkompetisi dengan acara-acara televisi negara-negara lain di Asia, ga hanya di Korea saja. Salut!

Nah, untuk Teman Cerita yang belum pernah sama sekali nonton Itaewon Class dan berencana nonton, saya sarankan jangan dibaca lebih lanjut postingan saya ini ya, karena sudah pasti banyak mengandung spoiler.

Kenapa saya tertarik bikin review Itaewon Class? Jawabannya adalah karena Itaewon Class bukan sekedar drakor, tapi juga drama yang inspiratif buat saya. Selain itu Itaewon Class menjadi bukti bahwa drakor ga melulu menye-menye soal percintaan. Jadi kalo ada yang bilang, “drakor kan tontonan cewe”, eeittss, anda yakin? Setelah saya menyelesaikan nonton Itaewon Class tahun lalu, bisa saya simpulkan bahwa drama ini cukup maskulin untuk ditonton oleh anda kaum pria. Well, untuk para lelaki yang merasa ‘geli’ untuk nonton drakor, saya cukup yakin Itaewon Class akan mengubah pandangan anda. Saya ngomong gini bukan tanpa bukti ya, sudah saya praktekkan sendiri ke suami saya, yang sebelumnya ga pernah nonton drakor (dan ga tertarik juga), setelah saya komporin akhirnya dia mau nonton dan suka banget! Tentu saja saya akhirnya nonton untuk kedua kali bareng dengan suami.

Pernahkah Teman Cerita merasa tertipu oleh tampilan poster sebuah film atau drama? Inilah yang terjadi pada Itaewon Class. Kita lihat sejenak yuk poster Itaewon Class yang saya tampilkan di atas. Persepsi pertama saya saat melihat posternya, “Oh, dramanya tentang anak gaul Itaewon nih”. Yah setidaknya gitulah ya, atau palingan ceritanya tentang anak-anak sekolahan di Itaewon. Dan ternyata..

Salah.

Bukan, bukan tentang anak gaul Itaewon guys, dan juga bukan cerita tentang sekelompok anak kuliahan. Itaewon Class intinya bercerita tentang perjuangan Park Sae-royi (Park Seo-joon) dari zero to hero. Literally from nothing to significantly something.

Kalo kata salah satu sahabat saya Pupi (Feby Grace Adriany), “Ah, males nontonnya soalnya cowonya kurang ganteng sih.” Ada benernya menurut saya, di sini Park Seo-joon secara visual agak kurang menarik ya kalo dibandingkan dengan penampilan dia di She Was Pretty (2015). Tapi yang Pupi ga tau adalah tingkat kegantengan First Male Lead di drakor itu bukan diukur dari fisiknya aja tetapi juga dari ha….

…rtanya. Eh salah, maksudnya dari hatinya.

Sumber : hancinema.net

Nah ini dia wujud Park Sae-royi dengan rambut model chestnut nya yang iconic.

SINOPSIS SINGKAT

Cerita dimulai dari kisah ayah Park Sae-royi yaitu Park Sung-yeol, diperankan oleh Son Hyun-joo, yang bekerja pada perusahaan yang bergerak di bidang kuliner bernama Jangga Group. Jangga Group merupakan perusahaan berskala internasional yang gerai restorannya sudah tersebar di wilayah-wilayah elit, ga cuma di Korea namun juga di luar negeri. Suatu saat Park Sung-yeol dipindahtugaskan ke Kantor Pusat Jangga di Kota Pajin, yang membuat Sae-royi pun harus pindah sekolah ke SMA Gwangjin. Dia satu sekolah dengan Jang Geun-won (Ahn Bo-hyun) yang merupakan anak dari Presdir Jangga, Jang Dae-hee (Yoo Jae-myung). Nah, di sinilah konfliknya dimulai.

Jang Geun-won dikisahkan sebagai tipe anak orang kaya yang songong, bergaya preman, tukang bully, tapi sebenernya cemen (ditampol dikit nangis). Nah, di hari pertama Sae-royi masuk ke sekolah baru, dia terlibat perselisihan dengan sang anak direktur songong tadi. Jiwa ksatria Royi terusik dengan kelakuan Geun-won yang lagi ngebully temen sekelasnya yang bernama Lee Ho-jin (Lee David). Ho-jin yang nerdy rupanya udah biasa jadi bulan-bulanan Geun-won di sekolah, biasa disuruh-suruh ke kantin untuk beliin minuman (tipe-tipe bullying yang banyak ditemukan di drakor deh pokoknya, termasuk di True Beauty).

Karakter Geun-won ini seperti yang udah bisa diprediksi ya, karena emang separoh anak setan, perihal pengennya susu rasa stroberi tapi dibeliin susu putih aja bikin dia ngamuk dan nyiram susu putih tadi ke Ho-jin. Dan Teman Cerita, di sinilah luar biasanya perilaku bullying yang dilakukan anak orang berkuasa, meskipun dilakukan di dalam kelas yang penuh dengan temen-temen lain, ga ada satu pun yang berani ngebela Ho-jin. Bahkan saat gurunya melihat kejadian itu, sang guru memilih “buta” dan bahkan ikut nyalahin Ho-jin (nah lho!). Ini murid dan guru sama-sama ga ada akhlak. Membuat kita yang nonton be like :

ingin ku mengutuk, tapi takut dosa.

Sae-royi yang makin gerah liat kelakuan Geun-won yang udah mulai physically abusive ke Ho-jin tadi memilih buat stand up demi rasa keadilan dan kemanusiaan. Sebenernya Sae-royi udah sempet diperingatkan sama Oh Soo-ah (Kwon Nara) cewe jutek, egois, tapi cakep yang juga temen sekelasnya supaya ga ikut campur dengan alasan Geun-won adalah anak direktur tempat ayahnya bekerja. Tapi dasarnya Royi ini berjiwa Pancasila, ga peduli dia itu mau anak presiden sekalipun, dia nyamperin Geun-won dan ngomong:

“Hanya karena kau kaya, tak berarti bisa jadi bajingan.”

Wow. Pelan tapi cadas. Temen-temen sekelas yang lain langsung pada bengong, antara ga percaya dan terpana ada orang yang cukup berani sekaligus bodoh buat jadi musuhnya Geun-won. Geun-won yang biasanya diperlakukan bak anak raja terkejut dong tiba-tiba dikatain “bajingan” sama anak baru. Kekagetan itu ngga lantas menyurutkan sikap abusive-nya ke Ho-jin, malah seolah semakin nantangin Royi. Royi yang makin gemes setelah melihat bahkan gurunya pun ga berbuat apa-apa, langsung melayangkan tinjunya ke pipi Geun-won. Sekali pukul Geun-won langsung ambruk ke lantai dengan diikuti kehebohan seisi kelas termasuk guru ga ada akhlak tadi yang langsung lari nyamperin Geun-won untuk memastikan dia ga kenapa-kenapa. Ini gurunya minta ditampol juga sepertinya. Kesel.

Insiden pemukulan itu berujung dengan dipanggilnya orangtua kedua belah pihak yaitu ayah Royi dan ayah Geun-won ke sekolah. Bisa dibayangkan betapa awkward-nya situasi saat Park Sung-yeol harus menghadapi bosnya sendiri. Ternyata emang bener peribahasa “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”, gimana anaknya ga kaya setan kalau ayahnya aja iblis. Geun-won yang bibirnya berdarah akibat tinju Sae-royi cuma bisa merengek dan ngadu ke ayahnya bahwa dia udah dianiaya sama Royi. Jang Dae-hee yang merupakan presdir perusahaan besar dengan auranya yang mengintimidasi, tanpa peduli siapa yang salah, meminta Sae-royi untuk tahu diri dan segera berlutut meminta maaf kepada Geun-Won. Bahkan saat itu sebelum Park Sung-yeol tahu kejadian sebenarnya, ia juga sempat menyuruh Sae-royi untuk segera minta maaf.

Di lain pihak, Sae-royi yang berpendirian teguh merasa ga bersalah sama sekali dan menolak untuk minta maaf. Saat ayahnya mulai marah, akhirnya Sae-royi menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di ruang kelas itu. Ayahnya diam sejenak, sedangkan Jang Dae-hee yang sudah mendengar duduk perkara sebenarnya pun tetap ngga peduli. Bahkan dia mengancam Park Sung-yeol akan kehilangan jabatannya di Jangga kalo sampe Royi ga bersedia minta maaf. Yang terjadi selanjutnya bener-bener ga terduga, Park Sung-yeol angkat bicara setelah diam cukup lama, sambil memandangi anaknya dia bilang:

“Dia masih muda dan belum tau apa-apa tentang kehidupan. Aku tidak percaya bahwa anak ini lahir dariku.”

Lalu sambil tersenyum dia melanjutkan,

“…dia sangat mengagumkan.”

Wah. Di sini saya yang nonton udah mulai berkaca-kaca.

Park Sung-yeol kemudian melanjutkan bahwa dia tahu diri dan mengundurkan diri dari Jangga. Sae-royi yang mendengar kata-kata ayahnya cuma bisa nangis, and you can tell when you watch this scene, Park Seo-joon really did an excellent job. Di adegan ini saat saya nonton, saya bisa ngerasain banget gimana sedihnya, geramnya Sae-royi, antara pengen melakukan sesuatu tapi ga berdaya. Jujur adegan-adegan kaya gini bikin kita yang nonton jadi ikut frustrated, padahal ini baru episode pertama guys, dan di sepanjang 16 episode ini penuh dengan adegan yang ngaduk-ngaduk perasaan.

Sae-royi yang merasa bersalah kepada ayahnya cuma bisa nangis, bayangin dong di hari pertama dia sekolah, dia harus dikeluarkan, ayahnya juga harus keluar dari pekerjaannya setelah puluhan tahun mengabdi hanya karena dia. Melihat anaknya yang lagi ‘down‘, Park Sung-yeol bilang bahwa dia bangga banget sama Sae-royi yang hidup dengan memegang prinsip.

Ahhh, gimana saya yang nonton ga terharu ada ayah sebaik ini.

😢😢😢

The best lah bonding antara ayah dan anak ini, saya bisa ikut merasakan gimana hangat dan dekatnya hubungan mereka berdua. Satu lagi adegan yang ga akan saya lupakan, dan akan terus saya ingat adalah adegan setelah itu. Ayahnya ngajak Sae-royi ke sebuah kedai, dan Royi yang belum cukup umur diajak minum soju. Saat Sae-royi mengatakan bahwa pelajar belum boleh minum alkohol, ayahnya cuma jawab “kamu kan sudah bukan pelajar lagi”. Haha. Bener juga sih, kan barusan aja dikeluarin dari sekolah. Suka banget adegan ini gimana ayahnya ngajarin Royi etika pada saat minum (alkohol). Gimana cara dia nuangin soju ke gelas, seberapa banyak yang harus dituang ke gelas soju, dan gimana gesture saat minum. Bisa dibilang unik dan bagus juga sih Korea punya etika kaya gini. Jadi ga asal mabok haha.

Setelah Royi menenggak soju, Ayahnya bertanya:

“Bagaimana rasanya?”

“Manis..”

Ayahnya tertawa dan bilang “Artinya hari ini hari yang berkesan untukmu.”

Dan itulah saat terakhir Soju terasa manis bagi Park Sae-royi.

Well, kenapa saya bilang gitu, karena we’re going down from here. Cerita perjuangan pahit Sae-royi baru aja akan dimulai (perasaan dari tadi juga ngga ada manis-manisnya yaa hahaha..).

😔😔😔

Setelah keluar dari Jangga Group, Park Sung-yeol berencana membuka kedai makan kecil-kecilan dengan uang hasil tabungannya selama ini. Tapi sebelum saya lanjut, saya perlu menjelaskan dulu nih tentang orang- orang yang nanti bakal berperan penting di drama ini. Salah satunya adalah yang tadi sudah sempat saya singgung yaitu Oh Soo-ah. Gadis ini ceritanya besar dan tinggal di panti asuhan di Pajin dan hubungannya deket banget sama ayahnya Sae-royi, bahkan udah dianggap seperti ayah sendiri. Kedekatan itu terjalin karena Jangga Group sebelumnya pernah jadi donatur utama di panti asuhan tempat Soo-ah tinggal. Nah karena kedekatan inilah, Sae-royi yang tadinya ngga suka sama Soo-ah karena jutek dan egois, jadi deket dan lama-lama dia sendiri yang bucin alias naksir berat sama Soo-ah.

Kembali lagi ke rencana buka kedai makan tadi ya guys, jadi pas lagi semangat-semangatnya ngurusin persiapan buka kedai, peristiwa naas terjadi. Park Sung-yeol jadi korban tabrak lari yang menyebabkan dia meninggal dunia. Meskipun awalnya ditutup-tutupi, karena sebuah kejadian, Park Sae-royi akhirnya tahu bahwa yang menabrak ayahnya adalah Jang Geun-won. Royi mengetahui itu di malam setelah ayahnya dimakamkan.

Teman Cerita bisa bayangkan perasaan Sae-royi ya, belom selesai dia dendam sama keluarga Jangga karena dia harus dikeluarkan dari sekolah, ayahnya yang harus kehilangan pekerjaan, kini ditambah kenyataan bahwa orangtua satu-satunya yang sangat dicintai meninggal karena ditabrak si anak setan, dan malah tetap mengkambinghitamkan orang lain. Sae-royi yang udah gelap mata karena kesedihan mendalam, langsung mencari Geun-won yang ternyata lagi dirawat di RS akibat luka setelah menabrak ayahnya Royi. Di situ Royi pasti udah berhasil membunuh Geun-won kalau polisi ga tiba-tiba dateng bareng Soo-ah. Soo-ah yang juga sedih kehilangan Park Sung-yeol mencoba menenangkan Royi, intinya ga worth it lah jadi pembunuh, jalan hidup masih terlalu panjang.

Sumber: hancinema.net

Padahal udah terlanjur ngambil batu, ga jadi deh dipukulin ke Geun-won. Penonton kecewa!

Harus saya akui kelebihan Soo-ah di sini adalah berpikir logis dan realistis, dan nanti Teman Cerita bisa melihat di episode-episode selanjutnya bahwa kemampuan dia berpikir logis itu membuat dia seolah tidak punya hati nurani dan mementingkan diri sendiri, tapi dengan begitu dia justru berhasil menggapai apa yang dia inginkan.

Nasib Park Sae-royi ini ibarat udah jatuh, tertimpa tangga, masih ketiban lemari seisi-isinya. Meskipun dia ga jadi nge-getokin kepala Geun-won pake batu, dia didakwa dengan pasal penganiayaan dan dihukum selama 3 tahun penjara. Wahh, di sini saya udah makin makan ati nontonnya. Drama macam apa ini, kok kayanya ngga ada hepi-hepinya. Sedih. Tapi saat dipenjara inilah dia akhirnya punya mimpi dan cita-cita untuk menjatuhkan Jangga Group. Di tempat ini jugalah dia menjalin hubungan dengan orang-orang yang nantinya akan berjuang bersamanya untuk misi balas dendam.

Kalo kata orang, balas dendam yang paling manis adalah kesuksesan. Itulah yang dilakukan Park Sae-royi. Cerita selanjutnya dibumbui dengan banyak banget kisah up and down-nya Park Sae-royi dalam berjuang merintis usaha kedai yang diberi nama ‘Danbam‘. Nah kenapa diberi judul Itaewon Class, karena kisahnya berasal dari Danbam yang terletak di Itaewon. Jadi di Korea, Itaewon merupakan distrik internasionalnya Seoul dan terkenal foreigner-friendly karena banyak ekspatriat bermukim di sana. Jadi Itaewon ini daerah yang rame banget dikunjungi turis karena banyak tempat hiburan yang gemerlap dan tempat kuliner yang bervariasi. Nah, Danbam ini dimulai cuma dengan 2 karyawan inti, yaitu Ma Hyeon-yi (Lee Yoo-young) yang diceritakan sebagai cewek transgender dan Choi Seung-kwon (Ryoo Kyung-soo) yang merupakan mantan narapidana.

Seiring berjalannya waktu, Sae Royi bertemu dengan Jo Yi-seo (Kim Da-mi) perempuan sociopath tapi cerdas sekaligus populer di media sosial (selebgram) dan sahabatnya Jang Geun-soo (Kim Dong-hee) yang kemudian bergabung jadi karyawan Danbam. Jo Yi-seo inilah yang berperan besar dalam kesuksesan Danbam sampai pada akhirnya mereka berhasil mendirikan perusahaan yang dinamakan Itaewon Class (IC). Selain itu Lee Ho-jin pun turut berperan penting karena sejak awal Sae-royi memulai rencana balas dendam dan meniti usahanya ternyata ada Ho-jin di belakangnya sebagai konsultan keuangan.

Selanjutnya cerita mulai dibumbui cinta segitiga antara Jo Yi-seo, Park Sae-royi dan Jang Geun-soo. Jang Geun-soo naksir Yi-Seo, Yi-seo nya naksir Sae-royi, sedangkan Sae-royi masih belum bisa move on dari Oh Soo-ah. Sungguh rumit. Oh ya, Jang Geun-soo ini ceritanya adalah adek tirinya Jang Geun-won, si manusia tak berakhlak, yang memilih hidup berjuang sendiri lepas dari keluarganya. Sedangkan Oh Soo-ah hidup sukses dan berkarir di Perusahaan Jangga. Kalo kita menempatkan diri jadi Sae-Royi kesel ga sih rasanya ketika orang yang kita sayangi, yang tahu penderitaan kita, eh malah kerja di perusahaan musuh yang merupakan sumber penderitaan tadi? Kesel dong pastinya, tapi tidak dengan Sae-royi, pria berbudi luhur nan bertenggang rasa. Sampe akhir pun Sae-royi tetep mendukung Soo-ah meskipun pada akhirnya mereka ga bersama.

REVIEW

Banyak banget scene-scene seru dan nguras emosi di Itaewon Class ini. Kita ga cuma dihibur sama jalan ceritanya yang apik, tapi kita juga mendapat pengetahuan-pengetahuan baru tentang hidup berbisnis, tentang dunia saham, dan lebih mantapnya lagi adalah tentang kisah perjuangan hidup yang sangat menginspirasi. Saya yakin sih, setelah nonton Itaewon Class banyak yang akan merasa tergugah, atau minimal terkesan dengan sosok Park Sae-royi. Sosok pemimpin baik yang membangun perusahaan dari nol, dan bisa merangkul bawahan-bawahannya dengan sentuhan kekeluargaan. Hal ini yang membuat anak buahnya sayang sekaligus segan terhadap dia.

Seperti kebanyakan kdrama, mereka membuat para penontonnya terpecah menjadi team First Lead dan team Second Lead, itulah yang terjadi juga dengan saya ketika saya nonton drama ini. Muncul beberapa komentar dan tanggapan dari beberapa temen mengenai sosok Jo Yi-seo dan Oh Soo-ah (banyak juga muncul di media sosial). Sebagian berpihak pada Jo Yi-seo karena dialah yang ada di samping Sae-Royi dari bukan siapa-siapa hingga jadi sesukses itu di akhir cerita dan memang dialah salah satu kunci suksesnya Itaewon Class. Saya yakin banyak yang senang karena pada akhirnya dia bisa memenangkan cinta Park Sae-royi juga, meskipun si mas Royi ini baru sadar kalo cinta sama Yi-seo pas di episode-episode akhir.

Beda cerita dengan saya yang sebenarnya adalah Team Soo-ah. Kenapa gitu? Kalo menurut saya pribadi, memang pada awalnya Oh Soo-ah seolah digambarkan sebagai perempuan yang memikirkan keuntungan dan kebahagiaan dia sendiri pada saat dia memutuskan untuk menerima beasiswa dan tawaran kerja oleh Jang Dae-hee (Presdir Jangga). Saya tahu sih karakter Soo-ah ini adalah perpaduan alami manusia, ada sisi egois dimana dia berjuang untuk hidupnya sendiri tapi juga persistence karena pada akhir cerita terjadi plot twist yang mengesankan bahwa itu semua dilakukan demi balas dendamnya ke Jangga atas kematian bapaknya Sae-royi. Nah.

Selain mengusung tema tentang perjuangan hidup Park Sae-royi untuk balas dendam dan meraih kesuksesan, drama ini juga sedikit menyentuh isu LGBT dan racism di Korea. Hal ini tergambar dari Ma Hyeon-yi yang came out as transgender dan sempet jadi issue saat dia ikut kompetisi masak di sebuah program televisi. Juga perlakuan rasisme yang diterima Kim To-ni (Chris Lyon) salah satu karyawan Danbam yang diceritakan berdarah Afrika-Korea saat masuk ke sebuah club di Itaewon. Di sini saya sedikit bertanya-tanya sih, apakah isu rasisme seperti itu memang masih ada di Korea, atau hanya sekedar bumbu cerita dalam drama ini. Tapi yang jelas cerita-cerita yang diselipkan itu makin menambah daya tarik Itaewon Class bagi saya.

Selain jalan cerita yang seru, salah satu yang menarik perhatian saya pada drama ini adalah kesuksesan para tokoh di dalamnya digambarkan dengan perubahan atribut yang mereka kenakan dan salah satunya adalah gadget. Kalau Teman Cerita perhatikan pada saat awal cerita, semua tokoh utama pada drama menggunakan handphone dengan merk Iphone, dan ketika Park Sae-royi dan tokoh utama lain meraih kesuksesan mereka berganti menggunakan handphone dari Brand Samsung yaitu Galaxy Z Flip yang kala itu baru saja diluncurkan. Saya jadi merasa, ‘Oh, ini ya salah satu tolok ukur kesuksesan.’ Sungguh placement marketing yang subtle namun cukup efektif. Begitu juga dengan mobil yang digunakan Park Sae-royi setelah berhasil mendirikan perusahaan Itaewon Class ga main-main mewahnya, yaitu Mercedes-Benz EQC 4Matic. Mobil full elektrik keluaran September 2018 itu menambah kecenya seorang Park Sae-royi dan makin mengukuhkan arti kesuksesannya sebagai seorang direktur utama dalam drama.

Anyhow, kalau Teman Cerita pengen nonton drakor yang isinya cinta-cintaan, atau komedi romantis yang bikin kita senyum-senyum sendiri pas nonton, bukan Itaewon Class jawabannya. Karena meskipun di dalamnya dibumbui kisah cinta antara Park Sae-royi, Yo Ji-seo dan Oh Soo-ah, menurut saya itu hanya dibuat untuk sekedar melengkapi kisah hidup seorang Park Sae-royi. Karena lagi-lagi fokus dari drama ini bukan kisah cinta, sehingga hubungan personal dengan para tokoh perempuan di sini juga ga terlalu menggambarkan romantisme yang bikin penontonnya tersipu-sipu. Tapi jika Temen Cerita mencari drakor yang keren dan inspiratif, saya sangat-sangat merekomendasikan kepada Teman Cerita untuk nonton Itaewon Class. Saya yakin setelah nonton anda akan menyesal sih …

Nyesel kenapa ga dari dulu nontonnya. 😝😝😝

SCORE

At the end, saya mau kasih skor untuk Itaewon Class yaitu 5/5, karena memang sekeren itu guys seriusan. So, buat yang belum nonton tunggu apalagi?

Biasa dipanggil Dessy, atau oleh 6 sahabatnya disini dijuluki "Calink" a.k.a gingsul (guess why). Married with no children yet (masih diusahakan ya). Saat ini bekerja di salah satu bank BUMN. Menulis menjadi salah satu hobi yang belum konsisten diterapkan alias timbul tenggelam dengan siklus tahunan (ini apa-apaan). Dengan adanya blog wanitadancerita.com ini harapannya makin mendorong semangat berkarya melalui tulisan. Semoga apa yang di share di sini bisa bermanfaat dan menghibur Teman Cerita semua bahkan dengan cerita yang paling receh sekalipun. Enjoy!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *