| |

Membuat Worksheet Binder untuk Anak Prasekolah

Yeay, tahun ajaran baru sekolah sudah dimulai. Apakah para Bunda Teman Cerita menjadi semangat atau justru berteriak “Hentikan semua ini, Mas Nadieeemm. Kami tak kan sangguupp..”? Ya, drama sekolah online masih akan berlanjut karena kondisi pandemi Covid-19 kita rasakan semakin tidak terkendali. Tentu kita belum siap mempercayakan anak kita menjalani sekolah offline dalam situasi ini, jadi mari panjangkan sabar dan luaskan ikhlas untuk membersamai anak bersekolah (lagi) dari rumah ya, Teman Cerita. Situasi ini memang sulit bagi semua pihak, yuk kita sama-sama berjuang semampu kita *virtual hug*.

Bila dilihat dari usia, tahun ajaran ini anak saya sudah bisa masuk ke jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Kami memang mendaftarkannya ke salah satu sekolah yang menggunakan metode blended learning dimana nanti pertemuan onlinenya dilakukan hanya dua kali seminggu dengan durasi 45-60 menit, sisanya dilakukan proses belajar mandiri di rumah bersama orang tua. Saya dan suami sadar bahwa pada usia ini, sekolah online memang tidak akan efektif, tapi setidaknya kami hanya ingin mengenalkan kepada anak kami bahwa ada sebuah situasi yang bernama ‘kelas’ dimana dia dan anak-anak lain seusianya akan belajar bersama dibawah bimbingan guru. Atau setidaknya anak saya bisa melihat teman-temannya sehingga termotivasi untuk meniru (hal baik) temannya. Nah soal ilmu akademis tetap porsi terbesar diletakkan pada pundak kedua orang tuanya sebagai pemegang mandat tertinggi. Teorinya sih begitu ya hahahaha. Belum mulai nih prakteknya, jadi belum bisa nge-review apa yang terjadi.

Saya pun lalu sok ide bikin kurikulum untuk belajar di rumah bersama ibunda tercinta. Saya coba baca-baca sekilas beberapa metode yang ada dan saya putuskan untuk mengadopsi mana yang paling logis saya lakukan di rumah, artinya tidak mau idealis, menyesuaikan kondisi keluarga kami dan menyesuaikan kemampuan anak saya. Setidaknya saya membagi beberapa bidang yang ingin dicapai oleh anak saya selama satu tahun ke depan : bidang bahasa, bidang matematika, bidang sensorik, bidang seni dan pengetahuan umum serta bidang kemampuan bertahan hidup. Ciee.. sekali lagi ini masih teori sotoy saya.

Untuk bidang bahasa ya tentu saja seputar pengenalan huruf, kosakata-kosakata dalam topik khusus dll. Bidang matematika akan menyasar pengenalan angka dan logika hitungan sangat sederhana. Bidang sensorik antara lain melatih keterampilan motorik halus dan kasarnya melalui berbagai alat sensory play dan aktivitas fisik di rumah. Sementara untuk bidang seni dan pengetahuan umum mungkin akan berkisar pada aktivitas mewarnai, menggunting, menempel, menghias, serta pengetahuan mengenai misal pohon keluarga, anggota tubuh, panca indera, proses berkembangnya hewan dll. Sedangkan untuk keterampilan bertahan hidup yang saya maksudkan sebelumnya antara lain seperti memakai dan melepas sepatu sendiri, belajar makan sendiri, memakai dan melepas baju sendiri, merapikan mainan, mencuci sepedanya, membuang sampah dan aktivitas sehari-hari lain di rumah. Tak terlalu ambisius harus sempurna, setidaknya semua diperkenalkan pelan-pelan hingga anak saya paham.

Nah, salah satu media yang saya akan pakai adalah binder worksheet yang saya kerjakan sepenuh hati jiwa dan raga. Saya mengerjakan ini berminggu-minggu di malam hari yang gelap dan dingin saat semua mata sudah terlelap, jangkrik berbunyi nyaring, tikus beraksi, dan security komplek berjaga. Saya spill sedikit ya prosesnya.

Langkah Membuat Binder Worksheet

  • Bila mencari di internet, kita akan mudah menemukan printable worksheet for toddler. Jika tak mau repot, tinggal print saja mana yang cocok. Saya memang mendesain ulang semuanya, sedikit saya sesuaikan dengan topik atau gambar kesukaan anak saya agar dia lebih tertarik mengerjakannya. Gambar berwarna akan lebih menarik ya.
Pada lembar kerja ini anak diminta menghitung objek buah lalu menandai bulatan di samping kanan dengan spidol sesuai jumlah buah.
Pada lembar kerja ini, anak diminta menandai semua angka 10 dengan spidol.
  • Jika ada worksheet yang butuh ditempel saat mengerjakannya, print dua kali ya. Satu untuk digunting dan satunya untuk tempat menempelkannya.
Lembar untuk tempat menempelkan.
Setiap huruf akan digunting dan anak nantinya akan menempelkan huruf-huruf ini sesuai tempatnya di lembar putih.
  • Masukkan worksheet yang sudah di-print ke dalam binder atau clear holder yang berisi plastik-plastik bening. Hampir semua aktivitas dilakukan di luar plastiknya ya, kecuali mewarnai. Misalnya saat aktivitas tracing, yang dicoret adalah plastik bindernya, bisa dihapus dan digunakan lagi di lain waktu.

  • Guntinglah bagian-bagian worksheet yang akan ditempel-tempal nantinya.
  • Untuk menjaga agar potongan-potongan gambar tadi tidak cepat rusak, kita bisa melaminatingnya. Teman Cerita dapat melaminating sendiri di rumah ya agar tidak repot dan lebih fleksibel waktunya. Beli saja plastik laminating di toko buku, lalu susunlah dengan hati-hati semua potongan gambar, lapisi dengan kain dan setrika dengan setrika biasa di rumah. Banyak tutorialnya di Youtube, silakan di cek ya.
  • Lalu gunting-gunting lagi hasil laminatingnya. Repot sih memang. Saya mengerjakannya dengan mencicil di malam hari sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi pegel. Haha.
  • Nah, untuk menempelkan gambar-gambar di plastik binder, Teman Cerita bisa membeli velcro kecil, saya kemarin beli di marketplace dan harganya tidak terlalu mahal. Beli saja cukup banyak karena akan terpakai di banyak aktivitas anak di rumah, termasuk untuk sensory play.
  • Untuk menjaga potongan-potongan gambar tidak berceceran atau hilang saat disimpan, saya gunakan plastik klip.
  • Selesai deh. Siapkan juga perlengkapan lain yang dibutuhkan seperti spidol yang bisa dihapus dan pensil warna atau crayon untuk aktivitas mewarnai.

Worksheet ini dapat terus saya tambah lagi jika sudah habis dipelajari dan dikerjakan. Kita sesuaikan saja dengan ketertarikan dan kemampuan anak kita. Worksheet ini dapat digunakan secara fleksibel di rumah, berganti-gantian dengan kelas online, sensory play, dan juga aktivitas-aktivitas fisik lain di rumah.

Belajar dan sekolah di rumah memang menuntut komitmen orangtua secara penuh, sangat lumrah jika dengan kondisi ini tekanan pada orang tua sangat besar, apalagi jika orangtua juga bekerja mencari nafkah. Masing-masing keluarga juga mungkin punya cara sendiri untuk menjadikan proses sekolah di rumah ini berhasil. Silakan Teman Cerita berbagi kisah jika punya jurus ampuh menghadapi anak yang sekolah di rumah ya.

Sampai jumpa!

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *