Childfree: Sikap yang Egois? Sikap yang Bertanggung Jawab? Atau bukan keduanya?
There is no blueprint to life. As Nietzsche once wrote ‘this is my way, what is your way? THE way does not exist.‘ Try and remember this before you tell your friends how to live their lives. Try not to judge anyone for the way they live their life as well.
UNTITLED
Hai Teman Ceritaa,
Di cerita kali ini topik yang akan saya angkat adalah mengenai childfree yang lagi panas-panas nya dibahas di sosial media ya Teman Cerita. Konsep childfree sendiri sebenarnya sudah lama ada, namun pro kontra mengenai childfree ini mulai ramai dibahas semenjak salah satu influencer dan content creator menyatakan bahwa dirinya dan pasangan memutuskan untuk childfree. Seketika, muncul berbagai komentar netizen dari yang mendukung sampai dengan menghujat, dan muncul juga reaksi dari selebgram lain sebagai tim #childfree vs tim #nochildfree.
Dalam tulisan ini saya hanya ingin berbagi mengenai hasil observasi saya mengenai sudut pandang masing-masing tim, mengenai, apa sih yang membuat mereka memilih menjadi tim #childfree atau tim #nochildfree. Observasi ini saya lakukan secara online ya teman cerita, saya lihat dari social media, interview podcast, streaming You Tube, serta artikel-artikel yang saya baca. Jadiii, mohon maaf jika masih banyak kekurangan dalam observasi saya ini, dan saya sangat senang sekali kalau teman cerita mau memberi masukan atau saran di kolom komentar.
Nah, sebelum membahas lebih lanjut saya ingin memberi sedikit disclaimer ya, keputusan menjadi tim #childfree maupun tim #nochilldfree adalah hak setiap orang, jadi disini kita tidak akan menghakimi pilihan masing-masing dan kita akan menghormati apapun pilihan yang setiap orang maupun setiap pasangan ambil.
Jadi, apa itu Childfree?
Definisi childfree menurut Cambridge Dictionary adalah sebuah istilah yang merujuk pada orang yang memilih untuk tidak memiliki anak, atau sebuah tempat atau situasi yang tidak ada anak (cth: pasangan childfree, hotel childfree, gaya hidup childfree). Istilah childfree pun dikaitkan dengan isu feminisme mengenai bahwa memiliki ataupun tidak memiliki anak merupakan hak perempuan, bahwa tubuh perempuan adalah milik mereka sendiri dan mereka yang akan memutuskan untuk seperti apa tubuh itu mereka gunakan.

Tim #childfree
Sebenarnya konsep childfree ini sudah banyak diterapkan diluar negeri dan oleh beberapa pasangan modern di Indonesia. Kenapa saya bilang modern? Karena konsep ini terhitung baru di Indonesia, dimana pada dasarnya Indonesia memiliki budaya yang agama berkontribusi erat di dalam nya dan konsep childfree sebenarnya cukup bertentangan dengan ajaran beberapa agama di Indonesia.
Jadi, apa yang membuat para pasangan tersebut memilih menjadi childfree?
- Merasa tidak siap atau tidak mampu merawat anak
Kesiapan seseorang dalam merawat anak memang tidak bisa diukur dari sudut pandang orang lain. Setiap orang memiliki kesiapan yang berbeda, permasalahan yang berbeda, dan pola pikir yang berbeda juga. Dan kenyataannya, merawat anak memang bukan hal yang mudah ya teman cerita. Untuk pasangan yang memilih childfree dengan alasan ini, sebenarnya banyak pertanyaan juga kekhawatiran yang muncul di benak mereka. Apakah kita mampu menjadi orang tua yang baik? Apakah kita siap secara finansial untuk menghidupi anak kita? Apa kita mampu menerima kekurangan yang (mungkin akan) dimiliki anak kita? dll.
2. Tidak suka pada anak kecil
Pada kenyataanya tidak semua orang suka pada anak kecil, dan pada orang yang tidak suka anak kecil kehadiran anak kecil di sekitar mereka membuat mereka merasa kurang nyaman. Perasaan suka pada anak kecil seringkali dikaitkan dengan perasaan keibuan, saat seseorang suka pada anak kecil akan timbul rasa rela berkorban untuk anak tersebut. Rela berkorban tidak selalu diartikan dalam hal finansial ya teman cerita, tapi juga dalam hal waktu, tenaga, dan pikiran juga bisa termasuk di dalam nya.
3. Memiliki masalah dalam hal kesehatan
Alasan karena masalah kesehatan bisa berarti beberapa hal, (i) bahwa seseorang dengan riwayat kesehatan yang dimiliki, dengan memiliki anak maka akan memperburuk sakit yang dimilikinya; (ii) atau ada juga seseorang dengan riwayat kesehatan yang dimilikinya akan membuat calon anak akan menderita sakit yang sama atau mungkin pada kondisi yang lebih buruk.
4. Memiliki pengalaman dan pengetahuan yang membuat memilih childfree
Trauma atau pengalaman buruk mempengaruhi seseorang untuk belajar dan lebih berhati-hati agar dirinya dan orang sekitarnya tidak lagi mengalami pengalaman yang sama. Dalam hal ini pengalaman buruk ini bisa dari pengalaman di masa kecil (penyiksaan atau perudungan), pengalaman di lingkungan keluarga (pengabaian atau pemaksaan), bahkan juga pengalaman di lingkungan tumbuh kembangnya (kekerasan atau kemiskinan). Dalam salah satu podcast yang saya dengar, ada seseorang yang memilih untuk childfree karena sejak muda dia dibebani tanggung jawab untuk mengurus dan menafkahi seluruh keluarganya, hingga saat dia sudah terbebas dari tanggung jawab tersebut dia hanya ingin membahagiakan dirinya sendiri dan tidak ingin lagi memiliki tanggung jawab lainnya (read: anak).
Pengetahuan yang dimiliki juga mempengaruhi pola pikir seseorang dalam memilih childfree. Pemikiran mereka lebih kepada, keadaan atau situasi di dunia dan di tempat yang mereka tinggali saat ini tidak ideal untuk membesarkan anak. Ada juga pemikiran bahwa saat ini dunia sudah over populated, jadi daripada menambah beban lainnya mereka merasa lebih baik fokus pada mencari solusi dari masalah yang sudah ada.

Tim #nochildfree
Sebenarnya selain #nochildfree banyak istilah lain juga yang digunakan untuk menunjukan ketidaksetujuan kelompok ini atas konsep childfree. Ada istilah #morechild yang menunjukan lebih banyak anak lebih baik, dan juga ada istilah #antichildfree yang juga cukup banyak digunakan untuk menentang konsep childfree. Tidak hanya di Indonesia, pro kontra childfree pun juga banyak terjadi di negara-negara lain.
Jadi, apa saja yang diungkapkan oleh tim #nochildfree?
- Menikah dan memiliki anak adalah bagian dari ajaran agama
Indonesia bukanlah negara agama, namun agama sudah menjadi salah satu bagian dari ideologi dari negara kita ini. Karenanya, kontra mengenai childfree pun banyak dilihat dari sudut pandang agama. Menikah dan memiliki anak dipercaya merupakan bagian dari ibadah, tertulis dan tersirat dalam ajaran-ajaran agama. Dan bahkan, memiliki anak juga masuk sebagai salah satu tujuan pernikahan yang diajarkan saat melakukan persiapan pernikahan.
2. Anak membawa kebahagiaan dan membuat rumah tangga lebih harmonis
Saat menikah, seseorang merasa bahagia karena memiliki pasangan yang dicintai, namun saat memiliki anak kita para orangtua menemukan dan menyadari bahwa ternyata kita bisa mencintai dan merasa bahagia lebih dari yang kita bayangkan. Pasangan berkomunikasi dan berkomitmen agar dapat membesarkan dan membahagiakan anak dengan penuh cinta, tentunya cinta itu dimulai dari cinta terhadap diri sendiri, kemudian cinta terhadap pasangan, dan setelahnya cinta kepada anak. Poin-poin tersebut masuk dalam 3 poin gambaran rumah tangga yang harmonis menurut psikolog.
3. Anak membuat kita lebih kuat, lebih dari yang kita bayangkan
Merawat dan membesarkan anak tentu bukan hal yang mudah, namun saat memiliki anak kita melihat banyak hal positif lain yang ikut lahir bersama kita. Kehadiran anak membuat kita termotivasi untuk menjadi lebih giat bekerja, menjadi pribadi yang lebih sabar, dan menjadi orang yang lebih kuat. Bahkan seringkali kita tidak menyangka dan membayangkan bahwa kita dapat melakukan hal-hal tersebut sebelumnya.
Tentunya ketiga hal tersebut diatas tidak membenarkan ketidaksiapan pasangan saat memutuskan untuk memiliki anak. Harus kita sadari dan kita ingat, bahwa anak tidak bisa memilih untuk dilahirkan di keluarga yang mana, keluarga yang seperti apa, dengan kondisi finansial bagaimana, membawa gen dan memiliki penyakit seperti apa. Kesiapan setiap orang, setiap pasangan berbeda-beda, tidak ada orang yang 100% siap untuk memiliki anak, bukan masalah menjadi egois ataupun menjadi bertanggung jawab, tetapi kemauan untuk terus belajar dan berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik lah yang menjadi dasar.
Namun, kembali lagi seperti yang Nietzsche katakan, “ini jalanku, mana jalan mu? tidak ada jalan yang sama.” Apapun jalan yang teman cerita pilih, saya doakan teman cerita berbahagia dengan pilihan nya masing-masing. #hugs
