Inner Circle Terakhir adalah Pasangan?
Saat akan memposting foto atau video di media sosial, kita sebagai pengguna diberi pilihan untuk mempublikasikannya ke seluruh teman ataukah hanya terbatas pada ‘teman dekat’ yang sudah kita pilih sebelumnya. Fitur ini tentu disediakan karena kita tak selamanya nyaman membagikan ‘kehidupan’ kita kepada semua orang. Ada saatnya kita hanya ingin berbagi kepada orang-orang tertentu saja, sehingga kita mengeluarkan orang tua, dosen atau atasan kita dari daftar orang dekat karena tak ingin mereka melihat postingan kita.
Memilih orang-orang sebagai teman dekat pastilah dilakukan oleh semua orang, tak hanya di media sosial melainkan juga di kehidupan nyata. Pada akhirnya kita hanya akan benar-benar terbuka pada beberapa orang yang sangat kita percayai sepenuhnya, dimana kita dapat bercerita apa saja, berkeluh kesah, membahas hal penting hingga tidak penting, tempat yang tidak menghakimi dan menerima kita apa adanya.
Memiliki pertemanan yang solid dalam hidup berdasarkan banyak penelitian dapat membantu meningkatkan kesehatan otak, mengatasi stres, membuat pilihan gaya hidup yang lebih baik, bahkan memungkinkan kita pulih dari masalah kesehatan dan penyakit lebih cepat. Namun ternyata jumlah yang banyak tak selalu berarti lebih baik. Kuantitas tidak selalu menandakan kualitas. Ini bukan tentang seberapa banyak orang yang kita kenal, melainkan seberapa dekat kita dengan orang-orang tersebut.
Tahukah Teman Cerita, bahwa seiring bertambahnya usia kita, maka lingkar pertemanan kita pun semakin sempit? Seorang psikolog dan penulis buku Facehooked: How Facebook Affects Our Emotion, Relationship, and Our Lives, Dr. Suzana E. Flores mengatakan : “Saya tahu bahwa penurunan pertemanan terus berlanjut seiring dengan bertambahnya usia. Ketika Anda berada di sekolah menengah dan perguruan tinggi, lebih mudah untuk berteman karena dikelilingi oleh sekelompok orang dengan minat yang sama. Namun, seiring bertambahnya usia, Anda kehilangan akses ini dan harus memutuskan apakah akan berteman atau tidak. Seiring bertambahnya usia, Anda juga akan memprioritaskan tipe orang seperti apa yang diinginkan di sekitar. Anda lebih mementingkan teman utama dibandingkan mempertahankan rekan,”.

Banyak hal yang akhirnya membuat lingkaran dalam atau inner circle kita semakin sempit. Misalnya saja pernikahan, pindah rumah atau ketertarikan yang tidak lagi sama. Jika sahabat kita menikah tentulah kita tidak dapat menuntut waktunya seperti dulu saat ia belum menikah. Pernikahan pun membuat kita lebih fokus kepada pasangan dan anak kemudian memilih menghabiskan waktu bersama keluarga daripada teman-teman. Pada akhirnya mungkin kita hanya akan berujung pada 1-2 orang teman dekat saja. Sisanya hanya menjadi teman biasa, bahkan lebih naasnya hanya menjadi teman di media sosial.
Saat ini saya adalah ibu rumah tangga berusia 30-an, saya tak lagi bekerja karena keputusan bersama agar saya fokus sementara mengurus anak-anak. Saya pun kerap berpindah-pindah kota mengikuti suami bertugas sehingga nyata bahwa saya tak punya kesempatan menjalin pertemanan baru. Beruntung saya masih memiliki grup pertemanan dengan sahabat-sahabat saat kuliah, walau kami hanya berbincang melalui aplikasi Whatsapp dan media sosial lain. Setidaknya sampai hari ini, grup tersebut masih kerap ‘berbunyi’ dan juga akhirnya melahirkan blog keroyokan ini.
Namun pada satu titik, saya merasa inner circle saya pada akhirnya nanti adalah suami saya. Sahabat-sahabat saya yang ada saat ini pun pasti hanya mengetahui sepersekian persen saja cerita kehidupan saya setiap hari. Keterbukaan adalah salah satu syarat dalam pernikahan yang saya pahami. Tak ada yang perlu dirahasiakan dari pasangan kita, karena jika bukan pasangan kita yang paling akan bisa mengerti kita, lalu siapa lagi?

Suami saya pun menyadari hal yang sama. Oleh karena itu, kami berupaya memelihara beberapa kebiasaan baik yang menunjang proses komunikasi kami. Beberapa kebiasaan yang saya dan suami lakukan antara lain adalah menjadikan sesi malam saat anak-anak sudah tidur sebagai waktu untuk ngobrol. Kami biasanya membahas mengenai pekerjaan suami, keadaan kantornya ataupun hal-hal yang menarik dalam satu hari yang kami alami. Begitupun rencana-rencana kami untuk masa depan atau obrolan random lainnya. Jika tak mengobrol, kami terkadang menonton drama Korea bersama, satu atau dua episode setiap malam, plus dibahas ya, bun.. Jika ada adegan yang perlu kami komentari atau kami tertawakan, pasti kami bahas.
Walau saya akui, bagi banyak pasangan mungkin tak akan semudah itu. Saya pernah mendengar kisah seorang teman yang sampai saat ini tak pernah tahu pasti berapa penghasilan suaminya dan kemana saja alokasi gajinya setiap bulan. Ada juga teman yang tidak tahu password handphone suaminya, karena bagi suaminya handphone adalah privacy sehingga pasangan pun tidak layak tahu. In my honest opinion ya, dalam kasus handphone yang akan jadi masalah adalah perilaku ‘kepo’ yang berlebihan sehingga sering memeriksa handphone pasangan untuk membaca chat-chat dan mengintip galeri atau history. Untuk sekedar tahu, seharusnya tidak jadi masalah sebagai antisipasi hal-hal darurat terjadi. Begitupun banyak pasangan lain yang terlalu sibuk dengan pekerjaan dan berbagai urusan sehingga tak lagi memiliki waktu intim untuk berkomunikasi mendalam dengan pasangannya.
Meskipun demikian, saya mengajak Teman Cerita untuk membayangkan ketika lanjut usia nanti, ketika anak-anak sudah dewasa dan memiliki kehidupannya sendiri, maka kita akan tinggal bersama pasangan kita berbincang segala hal, membahas masa muda, membahas hal-hal menyenangkan, membahas anak cucu, membahas tetangga sebelah, membahas saudara sendiri, membahas abang-abang sayur depan komplek dan lain sebagainya. Pasangan akan menjadi tempat ternyaman kita untuk berbagi, inner circle terakhir.
